Pentingnya Revitalisasi E-Government di Indonesia

Selasa, 05 Juni 2012 0 komentar
Pelaksanaan e-Government (egov) mengalami kamajuan. Namun kemajuan yang dicapai masih pada tingkat dasar
tahapan pelaksanaan egov yang baru meliputi peningkatan kemampuan organisasi pemerintahan dan publik dalam
mengakses  informasi.  Dengan  kata  lain  belum  terjadi  komunikasi  dua  arah  yang  efektif  antara  pemerintah  dan
masyarakat,  apalagi  pertukaran  “value”  secara  maksimal  yang  menjadi  ciri  transaksi  egov  melalui  portal
informatif.

Penyebab  utama  kelambanan  pengembangan  egov  di  Indonesia  adalah:  masih  rendahnya  “awareness”  sebagian
besar  pengambil  keputusan  akan  potensi  telematika, khususnya  egov  dalam  mempercepat  proses  reformasi;
ketiadaan  prioritas  aplikasi  yang  dapat  mempercepat  pemulihan  ekonomi;  kurangnya  konsistensi  dan  determinasi
pelaksana serta belum dilibatkannya secara maksimal instansi terkait; dan struktur tarif Internet yang masih belum
mendukung.


Karena  itu  revitalisasi  penerapan  egov  di  Indonesia  menjadi  sangat  penting.  Hal  ini  dapat  dilakukan  melalui
evaluasi  program  egov  berjalan,  menggencarkan  sosialisasi  dan  konsistensi  pelaksanaan  egov  di  seluruh pelosok
negeri, meningkatkan kinerja organisasi pelaksana dan alokasi RAPBN, serta mencari terobosan sistem pentarifan
Internet  yang  memanfaatkan  kompetisi  dan  asas  pelayanan  universal  (USO).  Minimnya  infrastruktur  tidak
selayaknya dijadikan kambing hitam karena tantangan utama saat ini adalah pemanfaatan fasilitas yang sudah ada.

Kata kunci: e-government, egov, telematika, telekomunikasi dan Internet.


1.  PENDAHULUAN

Memperhatikan  pelaksanaan e-government  (egov)  di
Indonesia selama kurun waktu 5 tahun terakhir, maka
sulit  dimungkiri  bahwa  berbagai  program  egov  yang
dijalankan  pemerintah  di  departemen  dan  lembaga
mengalami  hambatan  dan  kendala  yang  tidak  kecil.
Kemajuan memang telah berhasil dicapai, namun jika
dibandingkan  dengan  rencana  dan  target  awal,
apalagi  jika  dibandingkan  terhadap  kemajuan
regional,  maka  perkembangan  egov  kita  masih
tertinggal  dan  kalah  cepat.  Pemahaman  bahwa  egov
memang  bisa  menjadi  salah  satu  alternatif  terobosan
untuk  memberikan  pelayanan  publik  yang  lebih  baik
gagal  dipahami  oleh  sebagian  besar  pemangku
kepentingan  (stake  holder).  Terlebih-lebih  lagi  peran
penting egov  yang sangat diharapkan untuk  memulai
budaya  kerja  efisien  yang  terbebas  dari
ketidaktransparanan dan perilaku korupsi, kolusi, dan
nepotisme  (KKN)  dalam  pelayanan  publik  juga  sulit
direalisasikan. 

Kondisi  memprihatinkan  ini  terjadi  di  berbagai
tingkatan  birokrasi,  baik  dari  tingkat  staf  paling
bawah  hingga  ke  tingkat  paling  tinggi.  Begitu  pula
dalam  berbagai  praktek  bisnis  di  lingkungan  swasta.
Lemahnya pemanfaatan egov di lingkungan birokrasi
yang saling terkait dengan masih terbatasnya aplikasi
di  dunia  bisnis  telah  menyebabkan  lambatnya
pelaksanaan program egov.


Karena  itu  menjadi  penting  untuk  melakukan
revitalisasi  egov  di  Indonesia  secepat-cepatnya  jika
kita  memang  tidak  mau  kehilangan  momentum  dan
semakin tertinggal dari negara lain. Revitalisasi egov
ini  menjadi  semakin  penting  manakala  iklim  usaha
dan  investasi  di  berbagai  sektor  lain  memperlihatkan
kecenderungan  yang  tidak  menggembirakan.  Sudah
semestinya  saat  ini  pemerintah  mempertimbangkan
potensi aplikasi telematika di berbagai sektor sebagai
salah  satu  alternatif  penggerak  roda  ekonomi
terutama  di  sektor  riil  dan  jasa.  Selain  itu,
pemberdayaan  telematika  dan  egov  berpeluang  besar
membuka  lapangan  kerja  atau  mengurangi  tingkat
penangguran. 

Meski  tidak  berkesinambungan,  beberapa  aplikasi
telematika  tertentu  di  sektor  jasa,  industri  kecil dan
menengah, serta pendidikan yang telah digiatkan oleh
Tim  Koordinasi  Telematika  Indonesia  (TKTI)
beberapa tahun lalu kiranya patut dipertahankan agar
tidak  menjadi  mubazir.  Tulisan  ini  menekankan
pentingnya  melaksanakan  revitalisasi  egov  dengan
terlebih  dahulu  membahas  beberapa  karakteristik
egov  dan  membahas  kondisi  eksisting  egov  dari
berbagai sudut pandang.


2.  E-GOVERNMENT: MANFAAT, PRINSIP
DASAR, DAN PENTAHAPAN

E-gov didefinisikan  sebagai  upaya  pemanfaatan  dan
pendayagunaan  telematika  untuk  meningkatkan
efisiensi  dan  cost-effective  pemerintahan, 
memberikan  berbagai  jasa  pelayanan  kepada
masyarakat  secara  lebih  baik,  menyediakan  akses
informasi  kepada  publik  secara  lebih  luas,  dan
menjadikan  penyelenggaraan  pemerintahan  lebih
bertanggung  jawab  (accountable) serta  transparan
kepada  masyarakat.  Bank  Dunia  (2002)  memberikan
definsi  “E-Government  refers  to  the  use  of
information  and  communications  technologies  to
improve  the  efficiency,  effectiveness,  transparency
and accountability of government.”

2.1. Manfaat 

Beberapa  manfaat  e-gov  adalah  (1)  menurunkan
biaya  administrasi;  (2)  meningkatkan  kemampuan
response  terhadap  berbagai  permintaan  dan
pertanyaan  tentang  pelayanan  publik  baik  dari  sisi
kecepatan  maupun  akurasi;  (3)  dapat  menyediakan
akses pelayanan untuk semua departemen atau LPND
pada  semua  tingkatan;  (4)  memberikan  asistensi
kepada  ekonomi  lokal  maupun  secara  nasional;  (5)
sebagai  sarana  untuk  menyalurkan  umpan  balik
secara  bebas,  tanpa  perlu  rasa  takut.  Berbagai
manfaat  tersebut  pada  akhirnya  diharapkan  akan
dapat  meningkatkan  kemampuan  kepemerintahan
secara umum. 

2.2. Prinsip Dasar

Dalam  pemanfaatannya  untuk  pembangunan,
diperlukan  pemahaman  bahwa  e-gov  (1)  hanyalah
alat;  (2)  mempunyai  resiko  terhadap  integrasi  data
yang  sudah  ada;  (3)  bukanlah  pengganti  managemen
publik  dan  kontrol  internal  pemerintahan;  (4)  masih
diperdebatkan  peranannya  dalam  hal  mengurangi
praktek  KKN;  (5)  juga  masih  diragukan  untuk  dapat
membantu  mengurangi  kemiskinan;  dan  (6)
memerlukan  kerjasama  antar  ICT  profesional  dan
pemerintah.
Sebagai salah satu aplikasi telematika yang termasuk
baru  di  bidang  kepemerintahan,  maka  diperlukan
waktu dan proses sosialisasi yang memadai agar para
pelaku  birokrasi  dan  masyarakat  mampu  memahami
e-gov untuk  kemudian  mendayagunakan  potensinya
dan  tidak  terjebak  kepada  paradgima  lama, project
oriented activities. 

2.3. Pentahapan

Beberapa  negara  maju  maupun  yang  sedang
berkembang  melaksanakan  pengembangan  e-gov
sesuai  dengan  karakteristik  negara  masing-masing.
Jarang  ditemukan  negara-negara  tersebut
melaksanakan tahapan yang sama. Penelitian Parayno
(1999)  di  Philipina  dan  Kang  (2000)  menunjukkan
bahwa  ada  negara  yang  mendahulukan  perdagangan
(custom)  dan  e-procurement,  ada  negara  yang
memprioritaskan  pelayanan  pendidikan,  ada  yang
mendahulukan  sektor  kesehatan,  dan  ada  pula  yang
mengutamakan kerjasama regional. 

Menurut  Wescott  (2001),  dari  berbagai  langkah  dan
strategi  yang  dilaksanakan  oleh  negara-negara
tersebut,  secara  umum  tahapan  pelaksanaan  e-gov
yang  biasanya  dipilih  adalah  (1)  Membangun  sistem
e-mail  dan  jaringan;  (2)  Meningkatkan  kemampuan
organisasi  dan  publik  dalam  mengakses  informasi;
(3)  Menciptakan  komunikasi  dua  arah  antar
pemerintah  dan  masyarakat;  (4)  Memulai  pertukaran
value  antar  pemerintah  dan  masyarakat;  dan  (5)
Menyiapkan portal yang informatif.

Membangun  sistem  e-mail  dan  jaringan  biasanya
dapat  dimulai  dengan  menginstalasi  suatu  aplikasi
untuk  mendukung  fungsi  administrasi  dasar  seperti
sistem  penggajian  dan  data  kepegawaian.
Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia
3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung
40
Meningkatkan  kemampuan  organisasi  dan  publik
dalam  mengakses  informasi  bisa  dimulai  dengan
pengaturan  workflow  yang  meliputi  file,  image,
dokumen  dan  lain-lain  dari  satu works  station ke
work  station  lainnya  dengan  menggunakan
managemen  bisnis  untuk  melaksanakan  proses
pengkajian,  otorisasi¸  data  entry,  data  editing,  dan
mekanisme pedelegasian dan pelaksanaan tugas. 

Sementara itu menciptakan komunikasi dua arah bisa
dilaksanakan  dengan  menginformasikan  satu  atau
lebih  email  address,  nomor  telepon  dan  facsimile 
pada  website  untuk  meningkatkan  minat  dan
kesempatan  masyarakat  dalam  menggunakan
pelayanan  dan  memberikan  umpan  balik.  Pertukaran
value  antar  pemerintah  dan  masyarakat  memang
harus  dimulai  secepatnya  karena  telematika  sangat
mendukung  pelaksanaan  pembangunan  dan  proses
interaksi  bisnis  secara  lebih  flexible  dan  nyaman
dimana  dimungkinkan  terjadinya  proses  pertukaran
value atau  tata  nilai  dan  informasi  dengan  pihak
pemerintah.  Pertukaran value  yang  dimaksud  bukan
hanya  tata  nilai  dan  budaya,  tapi  juga  secara  nyata
memulai  terjadinya  transaksi  elektronis,  seperti
transfer  dana  antar  rekening  bank  melalui  ATM  dan
Internet sebagai bagian proses pelayanan publik.

Menyiapkan  sebuah  portal  sebagai  ujung  tombak
pelaksanaan  e-gov  diperlukan  untuk
mengintegrasikan  informasi  dan  jenis  pelayanan  dari
berbagai  organisasi  pemerintah  sehingga  dapat
membantu masyarakat dan stakeholder lainnya dalam
menjalankan  aktivitas  sehari-hari.  Portal  ini  sebisa
mungkin  haruslah  dapat  membimbing  segenap
lapisan  masyarakat  untuk  memenuhi  kebutuhan
mereka  dalam  menjelajah  dunia  informasi  baik
ditingkat  Pusat,  Provinsi  ataupun  Kabupaten  /  Kota.
Portal  yang  baik  biasanya  menambahkan  links
kepada  website  lainnya  dalam  menyempurnakan
pelayanan  kepada  masyarakat,  menyediakan  box 
untuk  keluhan  dan  umpan  balik,  dan  tentu  saja  juga
di update secara berkala.

Beberapa  konsep  e-gov  di  berbagai  negara  telah
memasukkan  tahapan  demokrasi  digital  yang
memungkinkan  partisipasi  masyarakat  serta  sistem
penghitungan  suara  dilaksanakan  melalui  perangkat
telematika  seperti  pemilihan  wakil  rakyat,  pemilihan
gubernur  dan  presiden.  Pemanfaatan  egov  untuk
demokrasi  membutuhkan  waktu  dan  proses
sosialisasi  yang  cukup  lama  untuk  meyakinkan
penduduk  memberikan  suaranya  melalui  sebuah
mesin.  Pelaksanaannya  di  beberapa  negara  maju
sekalipun  termasuk  di  Amerika  Serikat  sendiri,
banyak mengalami hambatan dan kegagalan. Majalah
Time  Annual  (2001)  mempelesetkan  semboyan
negara  bagian  Florida  setelah  ricuhnya  proses
penghitungan  komputer  hasil  pemilihan  suara  untuk
menentukan  presiden  Amerika  Serikat  tahun  2000
yang  lalu  dengan,  “Welcome  to  Flori-duh,  land  of
changing  chads,  butterfly  ballots  and  undervotes!”.
Meski  demokrasi  digital  belum  terlalu  mendesak
untuk dilaksanakan, langkah-langkah persiapan sudah
selayaknya pula di ambil dengan mempertimbangkan
tingkat  pemanfaatan  telematika  yang  sudah  cukup
tinggi  pada  proses  proses  PEMILU  dan  pemilihan
Presiden  dan  Wakil  Presiden  tahun  2004  dan  2005
lalu.  

3.  KONDISI EKSISTING

3.1. Aplikasi egov dan Infrastruktur

Di  lihat  dari  pelaksanaan  aplikasi  egov,  data  dari
Depkominfo  (2005)  menunjukkan  bahwa  hingga
akhir  tahun  2005  lalu  Indonesia  baru  memiliki:  (a)
564  domain  go.id;  (b)  295  website  pemerintah  pusat
dan  pemda; (c) 226 website telah mulai memberikan
layanan  publik  melalui  website;  (d)  dan  198  website
pemda masih dikelola secara aktif.  

Beberapa  pemerintah  daerah  (pemda)
memperlihatkan  kemajuan  cukup  berarti.  Bahkan
Pemkot  Surabaya  sudah  mulai  memanfaatkan  egov
untuk  proses  pengadaan  barang  dan  jasa  (e-procurement).  Beberapa  pemda  lain  juga  berprestasi
baik  dalam  pelaksanaan  egov  seperti:  Pemprov  DKI
Jakarta,  Pemprov  DI  Yogyakarta,  Pemprov  Jawa
Timur, Pemprov Sulawesi Utara, Pemkot Yogyakarta,
Pemkot  Bogor,  Pemkot  Tarakan,  Pemkab  Kebumen,
Pemkab.  Kutai  Timur,  Pemkab.  Kutai  Kartanegara,
Pemkab Bantul, Pemkab Malang.

Sementara  itu  dari  sisi  infrastruktur,  layanan  telepon
tetap  masih  di  bawah  8  juta  satuan  sambungan  dan
jumlah  warung  telekomunikasi  (Wartel)  dan  warung
Internet  (Warnet)  yang  terus  menurun  karena  tidak
sehatnya  persaingan  bisnis.  Telepon  seluler  menurut
data  Depkominfo  tersebut  telah  mencapai  24  juta  ss
(diperkirakan  posisi  kwartal  pertama  2006  telah
mencapai kurang lebih 30 juta ss). 

Meski kepadatan telepon tetap di beberapa kota besar
bisa  mencapai  11%  -  25%,  kepadatan  telepon  di
beberapa  wilayah  yang  relatif  tertinggal  baru
mencapai 0,2%. Jangkauan pelayanan telekomunikasi
dalam bentuk akses telepon baru mencapai 65% desa
dari  total  sekitar  67.800  desa  yang  ada  di  seluruh
tanah air. Jumlah telepon umum yang tersedia hingga
saat  ini  masih  jauh  dari  target  3%  dari  total

sambungan  seperti  ditargetkan  dalam  penyusunan
Program Pembangunan Jangka Panjang II dahulu.

Sementara  itu  jumlah  pelanggan  dan  pengguna
Internet  masih  tergolong  rendah  jika  dibandingkan
dengan total penduduk Indonesia. Hingga akhir 2004
berbagai  data  yang  dikompilasi  Asosiasi  Penyedia
Jasa  Internet  Indonesia  (APJII)  memberikan  jumlah
pelanggan  Internet  masih  pada  kisaran  1,5  juta,
sementara  pengguna  baru  berjumlah  9  juta  orang.
Rendahnya  penetrasi  Internet  ini  jelas  bukan  suatu
kondisi  yang  baik  untuk  mengurangi  lebarnya
kesenjangan  digital  (digital  divide)  yang  telah
disepakati  pemerintah  Indonesia  dalam  berbagai
pertemuan Internasional untuk dikurangi. 

3.2. Kelembagaan, Regulasi, dan Kebijakan

Perkembangan  dan  pembangunan  telematika
memasuki  babak  baru  pada  awal  tahun  2005  dengan
digabungkannya Ditjen Postel  yang dahulu berada di
bawah  Departemen  Perhubungan  kedalam
Depkominfo.  Satriya  (2005)  melihat  penggabungan
tersebut  seyogyanya  bisa  mempercepat  gerak
pelaksanaan  aplikasi  egov  di  seluruh  tanah  air  dan
dapat  dimanfaatkan  semaksimal  mungkin  untuk
penyediaan  infrastruktur  telematika  yang  sekaligus
disinkronkan dengan berbagai aplikasi prioritas.

Begitu  pula  dari  sisi  regulasi,  sudah  ada  Instruksi
Presiden  (Inpres)  No.  3  Tahun  2003  tentang  Strategi
Pengembangan  Egov  yang  juga  sudah  dilengkapi
dengan  berbagai  Panduan  tentang  egov  seperti:
Panduan  Pembangunan  Infrastruktur  Portal
Pemerintah;  Panduan  Manajemen  Sistem  Dokumen
Elektronik  Pemerintah;  Pedoman  tentang
Penyelenggaraan  Situs  Web  Pemda;  dan  lain-lain.
Demikian  pula  berbagai  panduan  telah  dihasilkan
oleh  Depkominfo  pada  tahun  2004  yang  pada
dasarnya  telah  menjadi  acuan  bagi  penyelenggaraan
egov di pusat dan daerah.

Sayangnya  beberapa  peraturan  payung  yang
diharapkan bisa segera selesai masih belum terwujud,
seperti  RUU  tentang  Informasi,  dan  Transaksi
Elektronik yang masih belum dibahas di DPR. 

Dalam  bidang  kebijakan,  kelihatannya  pemerintah
belum berhasil menyusun suatu langkah konkrit yang
dapat  menggerakkan  berbagai  komponen  pemerintah
(lintas sektor) untuk saling bekerja sama membangun
dan  menjalankan  aplikasi  yang  memang  harus
disinergikan.  Hingga  sekarang  pemanfaatan
telematika untuk Kartu Tanda Penduduk, Perpajakan,
Imigrasi,  dan  Kepegawaian  yang  sangat  dibutuhkan
dalam  reformasi  pemerintahan  masih  belum
terlaksana.  Masih  mahalnya  tarif  Internet,  termasuk
Broadband,  rupanya  telah  mulai  menarik  perhatian
Menteri  Kominfo  seperti  diungkapkan  beberapa
waktu  lalu  dalam  ajang  Indo  Wireless  2006  (Detik,
14/3/06).  Kombinasi  pemanfaatan  kapasitas  telepon
tetap  eksisting  dan  berbagai  teknologi  nirkabel
lainnya  sudah  seharusnya  bisa  didukung  oleh  sistem
tarif  yang  sudah  memanfaatkan  kompetisi  dalam
sektor  telematika  ini.  Begitu  pula  alternatif
penyediaan  infrastruktur  telematika  di  daerah
terpencil, perbatasan, dan tertinggal masih belum bisa
memaksimalkan pemanfaatan dana Universal Service
Obligation (USO) yang telah dikutip dari operator.

3.3. Rendahnya pemahaman egov.

Di  samping  berbagai  kondisi  yang  kurang
mendukung  seperti  diuraikan  di  atas,  pengembangan
egov  di  Indonesia  menjadi  bukti  bahwa  pemahaman
akan  potensi  telematika,  khususnya  egov,  masih
rendah. Kondisi  memprihatinkan ini terjadi di semua
tingkatan  dan  jenis  usaha,  baik  di  birokrasi  maupun
swasta. 

Pemanfaatan  egov  untuk  mengurangi  terjadinya
berbagai  peristiwa  penipuan,  kriminal,    hingga  terror
yang  berawal  dari  pemalsuan  identitas  seperti  KTP
dan  paspor  masih  belum  menunjukkan  tanda-tanda
peningkatan.  Begitu  pula  halnya  dengan  berbagai
kasus  penyelundupan  dan  penyalahgunaan  dokumen
kepabeanan  justru  semakin  marak  dan  semakin
canggih modus operandinya.

Ribut-ribut  masalah  “surat  sakti”  atau  “katabelece”
Sekretaris  Kabinet  terkait  dengan  lokasi  kedutaan
besar  kita  di  Korea  Selatan  mestinya  tidak  perlu
terjadi  jika  egov  sudah  dimanfaatkan  dalam  proses
penyusunan RAPBN. Pemanfaatan egov untuk proses
perencanaan  anggaran  yang  melibatkan  Depkeu,
Bappenas,  Departemen  Teknis,  dan  DPR  seharusnya
sudah  bisa  menyediakan  akses  kepada  masyarakat
untuk  melihat  berbagai  proyek  yang  akan
dilaksanakan untuk tahun anggaran berjalan. 

Meski  dibanggakan  dan  dipromosikan  langsung  oleh
Jubir  Presiden,  komentar  miring  publik  atas  situs
pribadi  Presiden  dan  beberapa  Menteri  Kabinet
Persatuan  Indonesia  yang  tidak  bisa  dibedakan
dengan  situs  dinas  juga,  jelas  menjadi  barometer
pemahaman dan leadership para pejabat di negeri ini. 

Dengan  demikian,  pelaksanaan  egov  yang  tidak
didukung  oleh  infrastruktur  memadai,  kurangnya
pemahaman,  visi  dan  misi  yang  konsisten,  serta
belum  kondusifnya  aturan  regulasi  dan  kebijakan
lintas  sektor  telah  membuat  pencapaian  program

egov  Indonesia  masih  berada  pada  tahap  awal  dan
belum  mencerminkan  terlaksananya  pertukaran
“value”.  Dengan  demikian  revitalisasi  egov  harus
mampu  secara  jeli,  efisien  dan  jitu  (smart)  untuk
menemukenali  pemasalahan  dasar  sehinga  berbagai
upaya dan dana yang telah dihabiskan dalam 5 tahun
terakhir tidak sia-sia.


4.  REVITALISASI EGOV

Memperhatikan  berbagai  kondisi  pelaksanaan
program egov seperti dibahas dalam Bab 2 dan Bab 3
di  atas,  maka  langkah  untuk  merevitalisasi  egov
Indonesia  sudah  tidak  bisa  ditunda  lagi.  Banyaknya
dana  yang  sudah  dihabiskan  tidak  sebanding  dengan
hasil  yang  diperoleh.  Namun  pelaksanaan  proses
revitalisasi juga  tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa dan tanpa konsep yang jelas.

Revitalisasi  yang  dimaksudkan  adalah  serangkaian
tindakan  perencanaan  dan  penataanulang  program
egov  yang  disesuaikan  kembali  dengan  target
pembangunan  nasional  dan  sektor  telematika  dengan
mengindahkan  prinsip-prinsip  dasar  serta  proses
pentahapan  egov  tanpa  menyia-nyiakan  kondisi
eksisting yang sudah dicapai. 

Beberapa  langkah  yang  bisa  diambil  dalam  waktu
dekat adalah sebagai berikut.
Pertama, mensikronkan  target-target  pembangunan
nasional  dalam  sektor  telematika  dengan  beberapa
program  egov  yang  akan  dilaksanakan  di  seluruh
lembaga  dan  departemen.  Langkah  ini  sekaligus
sebagai  proses  evaluasi  program  egov  yang  pernah
dijalankan di semua tingkatan. 
Kedua,  meningkatkan  pemahaman  masyarakat,
pelaku  ekonomi  swasta,  termasuk  pejabat
pemerintahan  atas  potensi  yang  dapat  disumbangkan
program  egov  dalam  mencapai  target  pembangunan
nasional dan sektor telematika. 
Selanjutnya, menyelesaikan  berbagai  program  utama
egov  yang  belum  berhasil  dilaksanakan,  dan
menyusun  prioritas  program  egov  yang  dapat
menciptakan  lapangan  kerja  serta  membantu
penegakan  praktek good  governance  dalam  berbagai
pelayanan publik. 
Keempat,  menambah  akses  dan  jangkauan
infrastruktur  telematika  bagi  semua  kalangan  untuk
mengutamakan  pemanfaatan  egov  dalam  segala
aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Termasuk dalam
hal  ini  adalah  menetapkan  struktur  tarif  yang
transparan  dan  terjangkau  buat  semua  kalangan.  Jika
perlu  dapat  saja  diberlakukan  diferensiasi  tarif  untuk
semua  aplikasi  egov. Berikutnya  adalah  alokasi  dana
egov  perlu  ditingkatkan  yang  disesuaikan  dengan
tahapan  yang  telah  dicapai.  Dana  bisa  berasal  dari,
RAPBN,  kerjasama  internasional  atau  juga  dari
swasta  nasional.  Terakhir,  menetapkan  hanya
beberapa  aplikasi  egov  pilihan  –sebagai  contoh
sukses-  yang  menjadi  prioritas  pembangunan  dan
pengembangan  sehingga  terjadi  efisiensi  dalam
pemberian pelayanan publik.

Evaluasi dan revitalisasi egov juga sangat diperlukan
mengingat  seperti  diingatkan  Kabani  (2006)  bahwa
adalah  suatu  keharusan  untuk  melakukan  proses
perencanaan  secara  hati-hati  dan  untuk  melakukan
streamlining  berbagai  proses  off-line  sebelum
melanjutkannya  menjadi  proses on-line.  Sebagai
tambahan,  juga  sangat  penting  diperhatikan  agar
instansi  pemerintah  untuk  tidak  melakukan  proses
otomatisasi berbagai inefisiensi.

Revitalisasi  egov  ini  semakin  dirasakan  perlu  ketika
kita  harus  juga  mempersiapkan  diri  menyambut
berbagai  perkembangan  baru  dalam  globalisasi
industri  dan  perdagangan  dunia.  Berbagai
perkembangan  teknologi  telematika  yang  semakin
konvergen  juga  membuat  pemerintah  harus  terus
menyiapkan  berbagai  regulasi  dan  kebijakan
antisipatif  dalam  penyelenggaraan  egov  di  berbagai
sektor.


5.  KESIMPULAN DAN SARAN

Memperhatikan  perkembangan  pelaksanaan  egov  di
Indonesia  serta  hasil-hasil  yang  telah  dicapai  hingga
saat  ini,  maka  mau  tidak  mau  konsep  dan  strategi
pelaksanaan  egov  membutuhkan  penyempurnaan  di
berbagai  sisi.    Penundaan  pelaksanaan  revitalisasi
egov hanya akan menjauhkan negeri ini dari cita-cita
reformasi yang sebenar-benarnya, yaitu memperbaiki
mutu  pelayanan  publik  kepada  seluruh  masyarakat
serta  pada  gilirannya  dapat  meningkatkan
kesejahteraan  mereka  melalui  peningkatan  efisiensi
birokrasi.

Pelaksanaan  revitalisasi  egov  harus  memperhatikan
kesiapan pemerintah dan masyarakat,  sesuai prinsip-prinsip dasar serta bertahap

0 komentar:

Poskan Komentar

 

©Copyright 2011 E_Government | TNB